Tugas Kesehatan Lingkungan dan Penyakit ( Semester 5)

1. RESPONS KEKEBALAN TUBUH
Respons kekebalan tubuh dan memori imunologis terhadap suatu patogen atau antigen dapat dibedakan atas respons primer dan respons sekunder . Respons primer merupakan respons kekebalan tubuh yang pertama kali terjadi ketika suatu antigen tertentu memasuki tubuh.
Respons sekunder merupakan respons kekebalan tubuh ketika antigen yang sama menyerang tubuh kembali untuk kedua kalinya. Ketika antigen pertama kali memasuki tubuh, respons sistem kekebalan tubuh tidak terjadi secara langsung. Diperlukan beberapa hari bagi sel limfosit untuk dapat aktif. Ketika banyak sel limfosit B terbentuk, konsentrasi antibodi dalam tubuh mulai terlihat.
Selama keterlambatan ini, individu yang terinfeksi akan sakit (contohnya demam). Konsentrasi antibodi mencapai puncak setelah sekitar 2 minggu dari awal infeksi. Saat konsentrasi antibodi dalam darah dan sistem limfatik naik, gejala sakit akan berkurang dan hilang. Setelah itu, pembentukan antibodi menurun dan individu tersebut sembuh.

Jika antigen yang sama menyerang tubuh kembali, antigen tersebut akan memicu respons kekebalan tubuh sekunder. Respons kedua ini terjadi lebih cepat daripada respons primer. Respons sekunder juga menghasilkan konsentrasi antibodi yang lebih besar dan lebih lama. Selain imunitas humoral (pembentukan antibodi), imunitas seluler juga berperan dalam respons kekebalan tubuh sekunder ini. Karena respons kekebalan tubuh sekunder yang cepat, gejala sakit (demam) tidak terjadi. Oleh karena itu, individu tersebut dikatakan kebal terhadap penyakit tersebut.
2. VIRUS
Menurut para ahli virus tergolong sebagai benda mati dan makhluk hidup. Sebagai benda mati karena diluar sel inang virus mengkristal. Tergolong sebagai makhluk hidup karena dapat berkembang biak saat berada dalam sel inangnya. Virus memiliki bermacam-macam bentuk tergantung jenisnya. Virus rata-rata berukuran 2-20 milimikron. Adapun sifat-sifat khusus virus menurut Lwoff, dkk. (1966) dalam Syahrurachman, dkk (1994) adalah :
1. Materi genetiknya hanya satu jenis
2. Struktur yang relatif sangat sederhana
3. Hanya melakukan kegiatan reproduksi dalam sel hidup
4. Tidak mempunyai informasi genetik untuk sintesis energi berpotensi tinggi
5. Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner
6. Asam nukleat virus mengambil alih kekuasaan dan pengawasan sistem enzim sel inang
7. Virus menggunakan ribosom sel inang untuk keperluan metabolismenya
8. Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung di dalam sel sesaat sebelum dibebaskan
9. Selama berlangsungnya proses pembebasan, virus mendapatkan selubung luar yang mengandung lipoprotein dan bahan-bahan lain yang berasal dari sel inang
10. Partikel virus lengkap disebut virion dan terdiri dari inti asam nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik (kapsid).

Ciri – ciri virus :
Adapun ciri-ciri virus adalah:
1. Berbentuk partikel dengan diameter kurang lebih 9-230nm
2. Virion hanya memiliki materi genetik dan lapisan protein yang disebut kapsid
3. Membutuhkan inang untuk kehidupannya
4. Virion tidak melaksanakan kegiatan metabolisme, respirasi atau fungsi biosintetik lainnya
Struktur virus
Untuk mempemudah dalam pemahaman struktur tubuh virus sebagai contohnya digunakan struktur tubuh virus T yang menyerang bakteriofag.

Struktur virus t:
1. Kepala, bentuk persegi delapan yang di dalamnya mengandung materi genetik (asam nukleat) virus (DNA/RNA)
2. Ekor, merupakan selubung memanjang (tubus), berfungsi sebagai alat penginfeksi
3. Serabut ekor, merupakan serabut yang tumbuh dibagian ujung ekor. Berfungsi sebagai penerima rangsang (reseptor).
4. Bagian kepala dan ekor virus diselubungi oleh kapsid. Kapsid tersusun atas unit-unit kecil yang disebut kapsomer. Kapsomer ini terdiri atas sejumlah protein ukuran kecil yang dinamakan protomer. Nukleokapsid (asam nukleat dan kapsid) beberapa virus ada yang dilapisi pembungkus yang disebut selubung/kulit (envelope) yang dapat terdiri atas lipoprotein atau glikoprotein. Pada beberapa virus selubung/kulit ini mempunyai bentukan seperti duri yang disebut spike. Duri ini dapat digunakan sebagai ciri untuk keperluan identifikasi (Darkuni, 2001).

Klasifikasi virus
Menurut Lwoff, dkk (1966) dalam Syahrurachman, dkk (1994) dalam klasifikasi virus digunakan kriteria sebagai berikut:
1. Jenis asam nukleat, RNA atau DNA
2. Simetri kapsid
3. Ada – tidaknya selubung
4. Banyaknya kapsomer untuk virus ikosahedral atau diameter nukleokapsid untuk virus helikoidal
Sedangkan menurut Jawetz, dkk (1992) dalam Darkuni (2001) sifat dasar yang
digunakan dalam klasifikasi virus adalah :
1. Jenis asam nukleat, DNA atau RNA; beruntai tunggal atau ganda
2. Ukuran dan morfologi, termasuk tipe simetris, jumlah kapsomer dan dan adanya selaput (envelope)
3. Adanya enzim-enzim spesifik terutama polimerase RNA dan DNA yang penting dalam proses replikasi gen, dan neurominidase yang penting untuk pelepasan partikel virus tertentu (misal influenza) dari sel-sel yang membentuknya
4. Kepekaan terhadap zat kimia dan keadaan fisik, terutama eter
5. Sifat-sifat imunologik
6. Cara-cara penyebaran alamiah
7. Patologi
8. Gejala-gejala yang ditimbulkannya
Berdasarkan Asam Nukleatnya Virus dibedakan menjadi:
1. Virus DNA, contohnya: Poxvirus, Hepesviruses, Adenoviruses, Papovaviruses, Parvoviruses
2. Virus RNA, contohnya: Orthomyxoviruses, Paramyxoviruses, Rhabdoviruses, Picornaviruses, Togaviruses, Reoviruses, Retroviruse
Berdasarkan Bentuk Dasarnya, Virus dibedakan menjadi:
1. Virus bentuk Ikosahedral. Bentuk tata ruang yang dibatasi oleh 20 segitiga sama sisi, dengan sumbu rotasi ganda, contohnya virus polio dan adenovirus.
2. Virus bentuk Heliks. Menyerupai batang panjang, nukleokapsid merupakan suatu struktur yang tidak kaku dalam selaput pembungkus lipoprotein yang berumbai dan berbentuk heliks, memiliki satu sumbu rotasi. Pada bagian atas terlihat RNA virus dengan kapsomer, misalnya virus influenza, TMV.
3. Virus bentuk Kompleks. Struktur yang amat kompleks dan pada umumnya lebih lengkap dibanding dengan virus lainnya. Contoh virus pox (virus cacar) yang mempunyai selubung yang menyelubungi asam nukelat.

Berdasarkan ada-tidaknya selubung yang melapisi nukleokapsid, virus dibedakan menjadi:
1. Virus berselubung. Mempunyai selubung yang tersusun atas lipoprotein atau glikoprotein, contoh: Poxvirus, Herpesviruses, Orthomyxoviruses, Paramyxoviruses, Rhabdoviruses, Togaviruses, Retroviruses.
2. Virus telanjang. Nukleokapsid tidak diselubungi oleh lapisan yang lain. Contoh: Adenoviruses, Papovaviruses, Parvoviruses, Picornaviruses, Reoviruses.

Berdasarkan jumlah kapsomernya, virus dibedakan menjadi:
1. Virus dengan 252 kapsomer, contoh adenovirus
2. Virus dengan 162 kapsomer, contoh herpesvirus
3. Virus dengan 72 kapsomer, contoh papovavirus
4. Virus dengan 60 kapsomer, contoh picornavirus
5. Virus dengan 32 kapsomer, contoh parvovirus

Berdasarkan sel Inangnya, virus dibedakan menjadi:
1. Virus yang menyerang manusia, contoh HIV
2. Virus yang menyerang hewan, contoh rabies
3. Virus yang menyerang tumbuhan, contoh TMV
4. Virus yang menyerang bakteri, contoh virus

Tipe Virus:
1. Virus Tipe I = DNA Utas Ganda
2. Virus Tipe II = DNA Utas Tunggal
3. Virus Tipe III = RNA Utas Ganda
4. Virus Tipe IV = RNA Utas Tunggal (+)
5. Virus Tipe V = RNA Utas Tunggal (-)
6. Virus Tipe VI = RNA Utas Tunggal (+) dengan DNA perantara
7. Virus Tipe VII = DNA Utas Ganda dengan RNA perantara

Faktor pembatas merupakan faktor yang membatasi antara virus dengan lingkungan. Sebagai contoh, temperatur udara merupakan satu pembatas antara penyebaran hewan pada demam berdarah. Suhu berpengaruh pada daur hidup, kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan. Adaptasi suatu spesies terhadap keadaan suhu udara yang tinggi dan rendah akan mempengaruhi sebaran geografik spesies tersebut.
Kelembaban nisbi juga merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk. Hal ini erat kaitannya dengan sistem pernafasan trakea sehingga nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah. Spesies nyamuk yang mempunyai habitat hutan lebih rentan terhadap perubahan kelembaban daripada spesies yang mempunyai habitai iklim kering (sukowati,2004).

Replikasi
Virus memperbanyak dirinya dengan cara replikasi. Replikasi virus secara umum dilakukan melalui beberapa tahap yaitu pelekatan pada sel inang; masuknya asam nukleat virus ke inang kemudian mengambil alih metabolisme sel inang terutama segi sintesis protein. Di dalam sel inang akan dibentuk kapsid-kapsid baru kemudian keluar dari sel inang dengan enzim khusus. Jenis replikasi virus beragam, ada jenis replikasi yang menyerang bakteri (bakteriofage), jenis replikasi yang menyerang hewan, dan jenis replikasi yang menyerang tumbuhan. Pada bakteriofage tipe replikasinya terdiri dari siklus litik dan siklus lisogenik. Pada siklus litik, replikasi virus diakhiri dengan lisisnya (pecahnya) membran sel bakteri; sedangkan pada siklus lisogenik, lisis membran tidak terjadi.

Siklus Litik
Salah satu contoh bakteri yang dijadikan tempat replikasi adalah Escherichia coli yang diserang oleh virus T4. Reproduksi virus secara siklus litik mengalami beberapa tahapan atau fase, yaitu (Anonima, 2004):
1. Fase Adsorbsi, yaitu penempelan bagian reseptor virus pada permukaan sel bakteri
2. Fase Penetrasi, yaitu virus mengeluarkan enzim untuk melubangi sel bakteri, setelah itu DNA virus masuk ke sel bakteri
3. Fase Biosintesis (eklifase), DNA virus mengambil alih metabolisme bakteri untuk memproduksi bagian-bagian tubuh virus yang baru (protein kapsid)
4. Fase Pematangan, DNA dan kapsid bergabung membentuk beberapa ratus virus baru (100-200 virus) yang juga memiliki lisozim untuk menghancurkan sel bakteri
5. Fase Pelepasan (Lisis), lisozim menghancurkan dinding sel bakteri, virus-virus baru keluar, dan sel bakteri mati

Siklus Lisogenik
Tahapan lisogenik hampir sama dengan siklus litik. Perbedaannya pada tahap penempelan dan penetrasi, DNA virus tidak menghancurkan DNA bakteri namun hanya menyisip padanya. DNA virus tersebut disebut profage yang bersifat laten (tidak aktif membelah). Bila keadaan mendukung (terkena zat kimia maupun radiasi) siklus litik akan terjadi. Pada virus yang menyerang sel hewan, terdapat membran khusus yang dapat menempel dan berfusi pada membran sel hewan. Setelah pembentukan virus-virus baru selesai, virus akan keluar dengan cara eksositosis dan mengambil bagian membran sel untuk pembungkus(amplop)nya sehingga sel inang tidak mati (Anonima, 2004). Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut ini.

3. PENYEBAB GAGAL PENGOBATAN TB
Menurut Prof. Tjandra Yoga, sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 – 8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant=kebal terhadap bermacam obat). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul.
Bakteri penyebab TB menjadi resisten ketika penderita TB tidak mendapatkan atau tidak menjalani pengobatan lengkap. Resistensi obat TB, seperti drug sensitive TB juga dapat menular melalui udara dari penderita kepada bukan penderita. MDR-TB merupakan bentuk TB yang tidak merespon terhadap standar 6 bulan pengobatan yang menggunakan obat standard atau first-line (resisten terhadap isoniazid dan rifampicin). Dibutuhkan waktu 2 tahun untuk diobati dengan obat yang 100 kali lebih mahal dibandingkan pengobatan dengan obat standard (first-line). XDR-TB merupakan salah satu bentuk TB yang disebabkan oleh bakteri yang resistan terhadap hampir semua obat anti TB yang efektif (misalnya MDR-TB plus resistan terhadap fluoroquinolones dan segala bentuk pengobatan lain (second-line) anti TB injeksi: amikacin, kanamycin atau capreomycin). Di sub Sahara Afrika, HIV/AIDS secara dramatis memicu penyebaran TB. TB adalah penyebab utama kematian penderita HIV. MDR-TB dan XDR-TB sangat mematikan bagi penderita HIV – penelitian menunjukkan CFR di atas 90%. Oleh karena itu, Drug-resistant TB merupakan ancaman utama terhadap keefektifan program pengobatan TB maupun anti-retroviral.
4. HIV/ AIDS MENULAR LEWAT GIGITAN NYAMUK?
Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang paling menakutkan saat ini. Penyakit yang yang belum ditemukan obatnya ini menyerang sistem pertahanan tubuh, penderitanya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Bagaimana tidak, seseorang yang terinfeksi positif oleh virus HIV/AIDS, maka tinggal maut saja yang menghilangkan penyakit tersebut pada penderitanya.
Apakah penyakit HIV/AIDS dapat menular melalui gigitan nyamuk? Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus di jawab. Karena seperti penyakit yang ditularkan melalui vector nyamuk di antaranya malaria dan demam berdarah.
Secara ilmiah, nyamuk tidak bisa menularkan virus HIV/AIDS melalui gigitannya. Walaupun sebelumnya nyamuk tersebut menggigit penderita HIV/AIDS kemudian menggit orang yang sehat. Tetap saja, gigitan nyamuk tidak dapat menularkan virus HIV/AIDS.
Ini disebabkan karena virus HID/AIDS tidak bisa berkembang dalam tubuh nyamuk. Berbeda dengan virus malaria misalnya, tubuh nyamuk bisa sebagai tempat hidup virus malaria dalam rantai perkembangan virus malaria.
Ada beberapa alasan, mengapa HIV/AIDS tidak bisa di tularkan melalui gigitan nyamuk, diataranya:
1. Tubuh nyamuk mencerna virus HIV/AIDS. Karena nyamuk mencernanya, sehingga struktur tubuh virus akan rusak. Dengan enszim-enzim khusus yang ada dalam sistem pencernaan nyamuk, sehingga virus HIV tidak bisa berkembang, bahkan dapat rusak dan mati. Ini berbeda dengan virus plasmodium penyebab penyakit malaria. Virus plasmodium bisa hidup dalam tubuh nyamuk hingga 9 – 12 hari dengan mengubah bentuk. Berbeda dengan Virus HIV/AIDS habis tercerna oleh sistem pencernaan nyamuk.
2. Berdasarkan penelitan, jumlah darah minimal yang dapat “menularkan” AIDS adalah sebesar 0.1 ml, jumlah yang mencukupi “ikut” pada jarum suntik. Sementara “jarum nyamuk” yang demikian halus, tentu tidak membawa darah sebanyak itu. Jadi tidak ketakutan seseorang pada penyebaran virus HIV/ADIS melalui gigitan nyamuk itu tidak beralasan.
3. Pada saat nyamuk menghisap darah pederita HIV/AIDS, jumlah virus yang ikut dalam darah yang di isap nyamuk tidak terlalu besar. Parasit-parasit penyebar penyakit yang memiliki kemampuan untuk menularkan parasitnya dari satu individu ke individu lainnya melalui mulut harus memiliki tingkat sirkulasi yang sangat tinggi dalam aliran darah inangnya. Penularan melalui kontaminasi mulut memerlukan parasit yang jumlahnya cukup untuk dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru. Jumlah parasit yang dibutuhkan bervariasi dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Parasit HIV sendiri memiliki tingkat sirkulasi yang sangat rendah dalam aliran darah, nilainya jauh dibawah parasit-parasit nyamuk lainnya. Dalam tubuh penderita AIDS sendiri virus HIV ini jarang-jarang yang tingkat sirkulasinya lebih dari 10 ekor per sirkulasi, dan biasanya 70-80% penderita HIV tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam aliran darahnya. Para peneliti melakukan perhitungan sebagai berikut : Misal ada seseorang dengan tingkat sirkulasi virus HIV yang mencapai 1000 dalam aliran darahnya, kemudian ada nyamuk yang mengisap darahnya, maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam seseorang bebas AIDS melalui nyamuk adalah 1 : 10 juta. Dengan kata lain seseorang baru terinfeksi satu virus HIV bila telah digigit oleh 10 juta nyamuk. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka jika seandainya ada seekor nyamuk yang sedang mengisap tubuh seseorang, kemudian nyamuk tersebut dipukul sehingga darah dalam tubuh nyamuk tadi tersebar, dan ada yang masuk ke dalam luka. Maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam tubuh manusia tadi adalah sangat tidak mungkin. Mungkin dibutuhkan 10 juta nyamuk.
Jadi ketakutan seseorang akan terinfeksi virus HIV/AIDS melalui gigitan nyamuk tidak terlalu mendasar. Ketakutan itu hanyalah bentuk generalisasi ketakutan bahkan fobia terhadap penyakit HIV/AIDS. Penderita HID/AIDS adalah adalah manusia biasa yang memerlukan support dari orang-orang yang sehat. Mereka butuh dukungan agar bisa tetap semangat menjalani kehidupannya, walaupun virus HIV/AIDS sudah menggorogoti tubuhnya. Jadi rasa kemanusian akan penerimaan sangat diharapkan dari lingkungan sekitarnya.
5. TROMBOSIT MEMPUNYAI 2 JALUR
Koagulasi dapat mulai dengan salah satu dari dua jalur, yang disebut jalur ekstrinsik dan intrinsik, baik yang feed ke jalur umum yang melengkapi proses. Jalur ekstrinsik dimulai dengan faktor substansi jaringan yang disebut (jaringan tromboplastin) yang dirilis oleh pembuluh darah yang rusak dan jaringan sekitarnya. Dengan keberadaan protein plasma lainnya (faktor pembekuan) dan ion kalsium, ini menyebabkan aktivasi protein yang disebut faktor X. Jalur intrinsik dimulai dengan zat yang disebut faktor XII, dirilis oleh trombosit darah. Melalui serangkaian faktor pembekuan tambahan, dan sekali lagi di hadapan ion kalsium, jalur ini juga menyebabkan aktivasi faktor X. Salah satu faktor penting dari jalur intrinsik disebut faktor VIII. Sebuah mutasi dalam gen untuk faktor ini adalah penyebab paling umum dari hemofilia. Jalur umum dimulai dengan aktivasi faktor X. Dalam kehadiran ion kalsium dan faktor-faktor pembekuan lain, faktor X mengaktifkan enzim yang disebut aktivator protrombin. Enzim ini mereka mengubah protrombin menjadi trombin protein plasma. Trombin adalah enzim yang, pada gilirannya, mengubah fibrinogen fibrin. Berikut kaskade berakhir, karena fibrin tidak enzim, tetapi protein berserat. Ini bentuk helai yang menempel pada trombosit dan sel endotel pada luka, membentuk anyaman yang, pada gilirannya, perangkap sel-sel lain.
6. ULAR
Ular adalah hewan tanpa kaki dan bertubuh panjang serta hidupnya pun melata. Ia sanggup memanjat pohon, berenang maupun berjalan di bebatuan yang dalam kondisi curam sekalipun. Semua jenis ular bersifat karnivora ( pemakan daging ) Bisa ular dapat dikategorikan menjadi 2 jenis. Yaitu neurotoxin dan hemotosin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel – sel hingga darah menggumpal dan berujung kematian.
Bisa ular juga mengandung enzim berbahaya, namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing – masing enzim berbeda tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase. Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan kulit dan otot si korban mati secara cepat. Ular berbisa memiliki beraneka ragam jenis dan habitat, seperti di pohon, tanah, batuan, laut dan sungai. Seperti dari golongan Viperidae, Colubridae dan Elapidae.
Semburan bisa ular kobra dengan target yang akurat dan bisa membutakan mata baru-baru ini diteliti oleh sejumlah ilmuwan yang hasilnya diterbitkan dalam Physiological and Biochemical Zoology. Demikian yang dilaporkan Discovery Channel. Untuk studi ini, Bruce Young, pakar biologi di University of Massachusetts, bersama rekan-rekannya mencoba menguak ketepatan semburan bisa ular kobra. Mereka menganalisa sejumlah ular kobra merah, hitam dan belang-belang dewasa. Diperlengkapi dengan alat pelapis kaca khusus yang melindungi matanya, Young menggoda seekor ular agar mau menyemburkan bisanya. Pelapis kaca tersebut diperlengkapi dengan accelerometer system yang dihubungkan dengan komputer guna memantau aktivitas gerak-geraik kepala Young dan ular tersebut.
Bisa ular itu mampu menjangkau jarak di atas 6,5 kaki dan semburan ular itu kelihatannya sangat tepat, maka dianjurkan kita berada di luar jarak itu. Namun kenapa semburan bisa ular itu mengarah ke atas tetap menjadi misteri. Kobra selalu menyembur usai kami mengubah arah kepala kami dan ketika peneliti menggerakkan kepala, ular juga menggerakkan kepalanya
Semburan ular berbentuk geometris di mana ular hanya bergerak bersiku kecil mengikuti mangsanya. Sesekali sebelum kobra menyembur, dia menggerak-gerakkan kepalanya untuk “membidik” sasaran yaitu mata mangsanya. Peneliti lebih lanjut menemukan bahwa kobra tidak melepaskan bisa sepenuhnya. Cairan bisa ular malahan menyembur di pola geometris yang khas, biasanya berbentuk oval. Ilmuwan meyakini cara ini meningkatkan daya semburan agar bisa ular dapat tepat mengenai mata lawan.
Selain menyebabkan kebutaan sementara atau permanen, bisa ular juga dapat menembus mata yang terbuka dan terus memasuki badan korban bahkan dapat menyebabkan masalah gangguan sistematik.
7. DEMAM BERDARAH
Seluruh kriteria Demam berdarah Dengue ( DBD ) disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi :
1. Nadi yang cepat dan lemah
2. Tekanan darah turun ( 20mmHg )
3. Kulit dingin dan lembab
4. Gelisah

Sindrom syok dengue, menurut sumber lain : pada penderita DBD yang disertai syok, setelah demam berlangsung selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba – tiba memburuk. Pada sebagian besar penderita ditemukan tanda kegagalan peredarahan darah yaitu kulit terasa lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lemah, kecil sampai tidak bisa diraba. Tekanan darah menurun menjadi 20mmHg atau kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80mmHg atau lebih rendah. Penderita kelihatan lesu, gelisah dan secara cepat masuk dalam fase kritis syok. Penderita seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok timbul. Nyeri perut hebat seringkali mendahului perdarahan gastrointestinal dan nyeri di daerah retrosternal tanpa sebab yang dapat dibuktikan memberikan petunjuk terjadinya perdarahan gastrointestinal yang hebat. Syok yang terjadi selama periode demam biasanya mempunyai prognosis buruk.
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus Dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviruses) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberi perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut.
Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus Dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Di Indonesia, serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat.
Siklus Pelana Kuda
Khusus demam pada DBD dikenal istilah siklus pelana kuda untuk menggambarkan grafik naik – turun panas yang dialami penderita DBD. Siklus ini terbagi 3 fase yakni : hari 1 -3 hari, hari 4 – 5 hari dan hari 6 – 7 hari. Pada fase I, penderita mengalami panas yang sangat tinggi hingga suhu badan mencapai 39 – 40 derajat celcius. Setelah mengalami panas selama 3 hari, biasanya pada hari ke 4 – 5 demam sempat mengalami penurunan drastis ke 37 celcius seakan terjadi kesembuhan. Padahal pada fase berikutnya fase III panasnya akan kambuh kembali pada hari ke 6 dan 7.
Cross protection
Cross protection adalah kekebalan humoral silang yang dihasilkan saat pembentukan antibodi pada infeksi pertama oleh salah satu dari 4 jenis dengue yang berfungsi untuk meringankan infeksi yang kedua

http://www.depkes.go.id/downloads/TB_DAY_08/Artikel_TB.pdf
http://www.anneahira.com/tanda-tanda-penyakit-demam-berdarah.htm
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2228124-pengertian-penggumpalan-darah/#ixzz27P07x4Aj
http://www.psychologymania.com/2012/06/hiv-aids-menular-lewat-gigitan-nyamuk.html
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/44566/BAB%20II%20G07fit.pdf?sequence=4

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s