Makalah Sanitasi, tugas dasar kesling

BAB I

PENDAHULUAN

Sanitasi dan kesehatan manusia adalah dua hal yang saling terkait. Sanitasi adalah kebutuhan dasar manusia dalam rangka kebersihan urusan buang hajat dan limbah serta penyediaan air bersihnya. Sayangnya untuk fasilitas kebutuhan dasar itu, Indonesia masih ketinggalan jauh dari tetangga- tetangganya.

Tiga unsur sanitasi adalah air limbah (waste water), persampahan (solid waste), dan drainase lingkungan (drainage system).Manajemen pembuangan manuisa (human waste) yang buruk akan berakibat secara langsung maupun tidak langsung pada transmisi penyakit. Lebih dari 2.4 milyar orang didunia saat ini tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai sehingga mereka terpaksa menggunakan fasilitas toilet yang tidak sehat dan tidak aman untuk digunakan.Sanitasi dan air minum merupakan salah satu dari delapan tujuan Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs) yg diupayakan untuk dicapai pada 2015. Salah satu sanitasi yang menjadi perhatian adalah masalah air yang tercemar terutama di negara berkembang dengan sistem sanitasi air yang kurang.

Air adalah zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara, ¾ bagian tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5hari tanpa minum air. Selain itu, air juga digunakan untuk memasak, mencuci, mandi, membersihkan kotoran yang ada di rumah, untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi dan lain – lain. Penyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan dan disebabkan melalui air sehingga menimbulkan wabah penyakit dimana – mana.

 

 

 

 

 

Jumlah air dalam tubuh manusia rata – rata 65 % dari berat tubuhnya dan sangat bervariasi pada setiap orang, bahkan juga bervariasi untuk setiap bagian tubuh seseorang. Organ tubuh manusia yang mengandung banyak air antara lain adalah otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82.7%, otot 75.6% dan dalam darah 83%. Setiap hari kurang lebih 1440 liter darah mengalir dan dibersihkan oleh ginjal, kemudian dikeluarkan 2-3 liter dalam bentuk urine. Selebihnya diserap kembali masuk kedalam aliran darah.  Persediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas akan memudahkan timbulnya berbagai penyakit di masyarakat.

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. Hubungan sanitasi buruk dan diare di Indonesia

Sesuai MDGs, pemerintah menargetkan pada 2015 mendatang 60,3% penduduk sudah bisa mengakses air minum yang aman dan 62,37% penduduk bisa memiliki sarana sanitasi yang layak. Bila di bandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, untuk urusan kedua bidang tersebut bangsa kita masih tertinggal beberapa langkah. Pasalnya, kini negara jiran itu telah memenuhi akses air berstandar bagi warganya.

Secara nasional, masih terdapat sekitar 64% wilayah pedesaan yang kesulitan dalam menjangkau akses air bersih dan tidak memiliki sarana sanitasi yang layak. Fenomena seperti ini kadang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat di perkotaan. Sementara banyak penduduk desa harus berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk memenuhi derigennya dengan air, segelintir orang kaya di kota menggunakan air bersih secara berlebihan.
Terbatasnya layanan air mi num yang bersih dan sanitasi yang buruk berdampak pada tingginya kasus penyakitpe nyakit berbasis lingkungan di Tanah Air.

Wabah yang paling sering berulang di Indonesia yang terkait dengan permasalahan air bersih dan sanitasi adalah diare.

Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) (BM = diarea; Inggris = diarrhea) adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan

Meski terkesan sebagai penyakit sederhana, diare tidak bisa dianggap remeh. Penyakit yang dikenal juga disebut muntah dan berak berak (muntaber) itu menyum bang kematian bayi terbesar di Indonesia, mencapai 31,4% dari total kematian bayi.

 

Penyebab Diare

  1. Faktor Infeksi, yang dibagi menjadi Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak – anak, infeksi jenis ini meliputi infeksi bakteri dan infeksi virus. Serta infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti otitis media akut. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak dibawah umur 2 tahun.
  2. malabsorbsi, yang meliputi malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi laktosa, malabsorbsi lemak, serta malabsorbsi protein.
  3. faktor makanan, (makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan).
  4. psikologis, seperti rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang lebih dewasa, namun kasus ini jarang ditemukan.

Gejala Klinis diare, baik pada anak-anak maupun orang dewasa sebagai berikut :

  1. Frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali
  2. Nafsu makan berkurang atau tidak ada
  3. Tinja cair dan mungkin disertai lendir atau darah
  4. Bila penderita kehilangan banyak cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi mulai tampak
  5. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa elektrolit.

Pengobatan pada anak :

Karena penyebab Diare akut / diare mendadak  tersering adalah Virus,  maka tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari.  Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan.  Diare akut dapat  disembuhkan hanya dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.

Yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat untuk menghentikan diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus.  Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut.

Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh,  akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari – ( 14 hari) dimana diare makin berisi – dari air (watery) mulai berampas, berkurang frekuensi nya dan sembuh.

Yang terpenting pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi.

Cara Pencegahan Diare dapat dilakukan antara lain dengan :

  1. Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan (Pada Balita)
  2. Mencuci tangan dengan sabun setelah berak atau sebelum memberi makan anak. Menurut penelitian, umumnya anak yang berusia 5 tahun pernah terinfeksi oleh rotavirus walaupun tidak semuanya mengalami diare. Biasanya anak-anak ini tertular karena kurangnya kebiasaan hidup sehat seperti kurang atau tidak mencuci tangan
  3. Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya, kamar mandi atau jamban yang bersih juga dapat membantu mencegah penyebaran kuman.
  4. Menggunakan air matang untuk makanan minuman. Kuman penyebab diare umumnya spesifik pada suatu daerah tertentu, yang bergantung pada tingkat kebersihan lingkungan dan kebiasaan kesehatan warganya. Di daerah dimana tingkat kebersihan lingkungannya buruk dan warganya tidak memiliki kebiasaan hidup sehat sering ditemui kejadian diare terutama karena adanya kontaminasi air atau makanan oleh kuman.
  5. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  1. Hubungan sanitasi buruk dengan Hepatitis A di Asia

Insiden hepatitis A lebih banyak terjadi di negara berkembang karena kondisi sosial ekonomi, higiene ( kebersihan diri ) dan sanitasi yanh sangat rendah. Di daerah tropis, puncak insiden cenderung terjadi selama musim hujan. Semua kelompok umur dapat terkena infeksi virus hepatitis A, tetapi di negara berkembang lebih banyak diderita oleh anak – anak dan orang muda. Sebagian besar anak – anak terinfeksi sejak umur satu tahun. Di negara-negara maju, insiden infeksi hepatitis A cenderung mengalami penurunan dan penderitanya beralih ke usia yang lebih dewasa, terutama yang sering berpergian ke daerah endemisitas (tingkat kejadian infeksi hepatitis A tinggi).

 

Penyebab dan Penularan Hepatitis A :

Penularan hepatitis A terutama melalui faecal oral ( feses ke mulut ), yaitu melalui air dan makanan yang terkontaminasi feces ( tinja ) penderita hepatitis A. Pencemaran oleh virus dari feces, seperti melalui tangan yang dicuci kurang bersih setelah buang air besar, kemudian mencemari makanan dan minuman. Feces yang mengandung virus juga mengotori sumber air minum, biasanya terjadi di lingkungan dengan higiene dan sanitasi buruk. Penularan infeksi VHA juga dapat terjadi melalui transmisi endemik, hubungan seksual, maupun suntikan. Masa penularan virus hepatitis A, terutama dua minggu sebelum timbul gejala kuning ( ikterik ) dan satu minggu sesudahnya.

 

Penanganan Hepatitis A:

Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya diatas, diharapkan untuk tidak banyak beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual dan muntah.

 

 

 

 

 

 

 

Pencegahan Hepatitis A pada sanitasi :

  1. Menjaga kebersihan dengan cuci tangan sebelum masak dan setelah keluar toilet, cuci alat-alat masak dan alat makan, dapur harus bersih, tidak ada binatang, serangga dll.
  2. Pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda serta simpan di tempat berbeda.
  3. Masak makanan hingga matang. Masak sampai matang, terutama daging, ayam, telur, seafood, rebus sup hingga 70 derajat Celcius. Untuk daging dan ayam, pastikan tidak masih berwarna pink serta panaskan makanan yang sudah matang dengan benar.
  4. Simpan makanan di suhu aman. Jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum dihidangkan, panaskan sampai lebih dari 60 derajat celcius, serta jangan simpan terlalu lama di lemari es
  5. Gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan yang segar, air yang bersih, proses memasak yang baik, cuci buah dan sayur dengan baik, serta tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kadaluarsa

 

  1. Sanitasi buruk secara global

Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare.

Tanggal 19 November diperingati sebagai Hari Toilet Sedunia (World Toilet Day). Tahun ini adalah peringatan yang ke-10 tahun sejak Hari Toilet Sedunia itu dicanangkan pertama kali. Kendati sudah ada peringatan akan hal itu, nyatanya masih banyak penduduk dunia yang buang air besar (BAB) sembarangan atau mengakses toilet yang tidak layak.

Data-data terbaru soal sanitasi di bawah ini seharusnya menjadi pemicu bagi semua pihak untuk lebih peduli dengan masalah sanitasi ini. Berikut data-data tersebut:

  1. Sekitar 2,6 miliar manusia di dunia tidak mempunyai akses terhadap toilet/jamban yang layak
  2. Sebanyak 884 juta orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang layak
  3. Setengah dari tempat tidur rumah sakit di negara-negara berkembang diisi oleh para penderita diare
  4. Diare adalah pembunuh paling mematikan di benua Afrika. Di dunia, diare membunuh sekitar 4.000 anak-anak setiap hari
  5. Diare lebih banyak membunuh manusia dibandingkan dengan AIDS, malaria, dan campak.
  6. Setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan di bidang air minum dan sanitasi akan memberikan dampak sebesar 8 dolar AS berupa kesehatan dan peningkatan produktivitas

Penyebab Diare secara global:

Bahwa terjadinya penyakit diare sangat terkait dengan masalah sanitasi. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit diare yang terkait dengan sanitasi, yang diambil dari literatur Sarudji. D, (2006)

a.              Faktor air bersih

Dalam dunia kesehatan khususnya kesehatan lingkungan, perhatian air dikaitkan sebagai faktor pemindah/penularan penyakit atau sebagai vehicle. Dalam hal ini E.G. Wagner menggambarkan bahwa air berperan dalam menularkan penyakit-penyakit saluran pencernaan makanan. Air membawa penyebab penyakit dari kotoran (faeces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui makanan, dan minuman. Air juga berperan untuk membawa penyebab penyakit non mikrobial seperti bahan-bahan toksik yang terkandung di dalamnya.

Penyakit-penyakit yang biasanya ditularkan melalui air adalah Thypus abdominalis, Cholera, Dysentri basiler, Diare akut, Poliomyelitis, Dysentri amoeba, penyakit- penyakit cacing seperti Ascariasis, Trichiuris, parasit yang menggunakan air untuk daur hidupnya seperti Schistosoma mansoni.

b.             Faktor Jamban

Ada dua faktor yang menyebabkan BAB sembarangan:

Tradisi dan kebiasaan turun temurun. Kesadaran rendah akan kebersihan dan sistem sanitasi yang sehat juga menambah daftar panjang alasan mereka BAB di sembarangan tempat. Biasanya faktor ini terjadi di daerah pedesaan, dimana masyarakatnya masih cenderung konservatif dalam hal perubahan tradisi sanitasi.

Keterbatasan akan akses air dan minimnya jumlah toilet. Di daerah perkotaan, air sangat mahal. Dan jika ada, pasti dalam jumlah banyak kondisi airnya kotor, seperti yang terjadi pada sungai – sungai besar yang sudah tercemaar limbah pabrik. Belum lagi mahalnya pembuatan toilet dan sempitnya lahan yang ada, sehingga tidak memungkinkan pembuatan toilet di rumah – rumah penduduk.

c.              Faktor Sampah

Terkait permasalahan sampah ini harus diperhatikan keberadaan vektor lalat. Vektor adalah salah satu mata rantai dari penularan penyakit. Lalat merupakan salah satu vektor penyakit terutama penyakit saluran pencernaan seperti thypus perut, kolera, diare dan disentri. Sampah yang mudah membusuk merupakan media tempat berkembang biaknya lalat. Bahan – bahan organik yang membusuk, baunya merangsang lalat untuk datang mengerumuni, karena bahan – bahan yang membusuk tersebut merupakan makanan mereka. Adapun komponen – komponen dalam sistem pengelolaan sampah yang harus mendapat perhatian agar lalat tidak ada kesempatan untuk bersarang dan berkembang biak adalah mulai dari penyimpanan sementara, pengumpulan sampah dari penyimpanan setempat ke tempat pengumpulan sampah (TPS), transfer dan transport dan tempat pembuangan akhir (TPA).

 

  1. Faktor Sanitasi Makanan

Peran faktor makanan dalam menimbulkan diare dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare. Banyak dari mereka yang mencuci sayuran dan buah dengan cara yang tidak benar, sehingga berisiko terkontaminasi bakteri kembali. Seharusnya mencuci sayuran atau buah menggunakan air mengalir, bukan dengan air dalam tampungan. Begitu juga dengan pengolahan makanan yang kurang higienis.
  2. Bahan makanan, selain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan seperti perbaikan bahan pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya simpannya.
  3. Selain itu pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Kejadian ini biasanya terjadi pada pembusukan bahan pangan.
  4. Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab penyakit. Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tifus, kolera, disentri, atau TBC,mudah tersebar melalui bahan makanan.
  5. Gangguan-gangguan kesehatan, khususnya gangguan perut akibat makanan disebabkan, antara lain oleh kebanyakan makan, alergi, kekurangan zat gizi, keracunan langsung oleh bahan-bahan kimia, tanaman atau hewan beracun; toksintoksin yang dihasilkan bakteri; mengkonsumsi pangan yang mengandung parasit – parasit hewan dan mikroorganisme. Gangguan-gangguan ini sering dikelompokkan menjadi satu karena memiliki gejala yang hampir sama atau sering tertukar dalam penentuan penyebabnya.

Pengobatan diare pada penderita dewasa terdiri atas:

1.      Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.

2.      Melaksanakan tata kerja terarah untuk identifikasi penyebab infeksi.

3.      Memberikan terapi simptomatik

4.      Memberikan terapi definitif.

Pencegahan

Terkait dengan air bersih, hal yang harus diperhatikan adalah jarak sarana air bersih seperti sumur gali dengan jamban. Juga konstruksi sarana yang memenuhi syarat teknis kesehatan, seperti pada sumur gali terdapat ketentuan bahwa sampai kedalaman 10 feet dari permukaan tanah, dinding sumur di buat kedap air, yang berperan sebagai penahan agar air permukaan yang mungkin meresap ke dalam sumur telah melewati lapisan tanah sedalam 10 feet, sehingga mikroba yang mungkin ada didalamnya telah tersaring dengan baik.

Dalam membangun tempat pembuangan tinja diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut :

a.         Tidak menimbulkan kontaminasi pada air tanah yang masuk ke dalam sumber atau mata air dan sumur.

b.        Tidak menimbulkan kontaminasi pada air permukaan.

c.         Tidak menimbulkan kontaminasi pada tanah permukaan. Persyaratan ini untuk mencegah penularan penyakit cacing.

d.        Tinja tidak dapat dijangkau oleh lalat atau binatang-binatang lainnya.

e.         Tidak menimbulkan bau dan terlindung dari pandangan, serta memenuhi syarat-syarat estetika yang lain.

 

 

Sedangkan kriteria jamban sehat (improved latrine) sesuai Manual Pelaksanaan Program Sanitasi Total & Pemasaran Sanitasi (2008), dikatakan bahwa Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang memenuhi syarat :

a.         Tidak mengkontaminasi badan air.

b.        Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.

c.         Membuang tinja manusia yang sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga vektor lainnya termasuk binatan.

d.        Menjaga buangan tidak menimbulkan bau

e.         Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna

            Pemilihan lokasi bangunan septic tank sesungguhnya tidak menjadi masalah, karena bangunan ini kedap air, yang umumnya terbuat dari beton (concrete) asalkan dijamin tidak bocor. Tapi yang menjadi masalah adalah letak resapan air setelah melalui outlet. Lokasinya harus menjamin tidak mempunyai kontribusi terhadap kontaminasi sumber air yang digunakan sebagai sumber air minum. Dianjurkan setidak-tidaknya berjarak 5 feet antara resapan dengan sumber air.

Untuk TPA seharusnya sampah tidak langsung dibuang begitu saja ke tanah, pemerintah seharusnya mempersiapkan tempat agar sampah tidak menjadi polusi bagi tanah, pemanfaatan limbah sampah di luar negeri dengan penyaluran energi listrik, Area TPA yang akan digunakan di berikan alas plastik yang luas seukuran lahan TPA atau dibagi menjadi beberapa area, seperti yang dipakai untuk ternak ikan di kolam-kolam ikan, alas plastik ini berguna untuk menyaring cairan yang mengandung gas metana, cairan ini yang akan diendapkan. cairan yang mengendap akan menguapkan gas yang bisa dijadikan sumber energi. Anda pernah mendengar berita mengenai ledakan di TPA yang mengubur sejumlah orang hingga tewas, itulah bukti jika ada energi yang mengendap. Saat ini Energi yang ada di TPA menguap begitu saja menjadi Bau diudara mencemari daerah kawasan TPA, seandainya dimanfaatkan semaksimal mungkin akan sangat menguntungkan bagi warga sekitar TPA.

 

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN
    1. Virus penyebab diare menular, bepergian dengan mudah dari tangan kotor ke tangan tidak dicuci. Membagi minuman, peralatan, dan makanan yang tercemar juga menyediakan jalan masuk perut untuk penyebab diare.
    2. Pencemaran oleh virus dari feces, seperti melalui tangan yang dicuci kurang bersih setelah buang air besar, kemudian mencemari makanan dan minuman
    3. Air berperan dalam menularkan penyakit-penyakit saluran pencernaan makanan. Air membawa penyebab penyakit dari kotoran (faeces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui makanan, dan minuman.
    4. Sampah yang menumpuk akan menyebabkan berkembangbiaknya lalat dan dapat mengontminasi makanan disekitarnya

 

  1. SARAN
    1. Menerapkan PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di kehidupan sehari – hari
    2. Menjaga makanan agar tetap hygienis

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Wijayakusuma,hembing.2008. Tumpas hepatitis dengan obbat herbal.Jakarta:Pustaka Bunda

http://green.kompasiana.com/polusi/2011/04/18/solusi-sampah-bermanfaat/

http://harianjoglosemar.com/berita/juara-bab-sembarangan-56013.html

http://helpingpeopleideas.com/publichealth/index.php/2011/05/diare-dan-sanitasi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Diare

http://id.wikipedia.org/wiki/Sanitasihttp://lifestyle.okezone.com/read/2010/06/14/27/342780/diare-penyebab-kematian-kedua-balita-di-dunia

http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-hepatitis.html

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1717-5-tips-penting-pencegahan-hepatitis-a.html

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s